Sektor Pariwisata, salah satu pendapatan devisa terbesar milik Indonesia terdampak Pandemi

Bali, Malang, Yogyakarta merupakan sedikit dari kota di Indonesia yang memiliki banyak keindahan alam di sudut-sudut daerahnya. Ini membuat mereka menjadi kota yang sering dijadikan tujuan wisatawan lokal maupun mancanegara. Dengan pengelolaan yang baik dan perencanaan yang matang, sektor pariwisata bisa menjadi salah satu pendapatan devisa terbesar miiik Indonesia. Belum lagi wilayah lain yang ada di Indonesia, banyak sekali potensi2 wisata yang mungkin belum dikelola secara maksimal.

Sektor pariwisata telah menjadi andalan devisa negara. Pada tutup buku 2018, sektor ini mampu menyumbang devisa terbesar dengan nilai mencapai lebih dari USD19,2 miliar. Kementerian Pariwisata akan terus menggenjot kunjungan wisatawan dengan memaksimalkan potensi destinasi Bali baru.

Devisa sektor wisata ini terbesar disumbang dari Bali dengan sumbangsih mencapai 40%. Disusul Jakarta dengan 30% dan Kepulauan Riau (Kepri) dengan kontribusi 20%. Dari ketiga wilayah ini telah memberikan kontribusi hingga 90%. Sementara Yogyakarta hanya memberikan kontribusi sekitar 1,2%.

Sejak tahun 2018 sektor pariwisata sudah kalahkan sektor migas. Sekarang pariwisata telah menjadi andalan. Sektor pariwisata akan terus digenjot agar mampu meningkatkan kunjungan wisatawan mancanegara. Apalagi sektor ini dikenal lebih ramah lingkungan dan mampu menghasilkan multiplier effect yang lebih luas di masyarakat. (Sumber : https://www.google.com/amp/s/economy.okezone.com/amp/2019/08/22/320/2095457/kalahkan-migas-pariwisata-sumbang-devisa-terbesar-usd19-2-miliar ).

Sekedar informasi, realisasi devisa dari sektor pariwisata pada 2019 mencapai Rp280 triliun. Meningkat dari capaian 2018 yaitu Rp270 triliun. ekonomi sektor pariwisata berkontribusi pada PDB nasional sebesar 5,5 persen. Jumlah tenaga kerja sektor ini sebanyak 13 juta orang.

Walaupun terjadi peningkatan, pemerintah terus berusaha meningkatkan kinerja sektor pariwisata. Salah satunya dengan menciptakan 10 destinasi pariwisata unggulan di antaranya Danau Toba, Labuan Bajo, dan Candi Borobudur. Namun, upaya itu tersandung di awal tahun 2020 setelah wabah virus corona merebak.

Pandemi COVID-19 berdampak luas dan dalam pada industri pariwisata di seluruh dunia karena anjloknya permintaan dari wisatawan domestik maupun mancanegara. Indonesia, sebagai salah satu negara pilihan tujuan wisata juga tidak luput terkena imbasnya. Akibat wabah ini, pendapatan negara dari pariwisata juga terjun bebas.

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi Luhut Pandjaitan mengatakan, penurunan pariwisata disebabkan oleh pemberlakuan berbagai pembatasan perjalanan oleh banyak negara untuk mencegah penyebaran COVID-19.

Berdasarkan data badan pusat statistik (BPS), kata Luhut, bulan Mei tercatat perjalanan wisata turun hampir 100 persen dibanding bulan sebelumnya. Sementara, Bank Indonesia mengeluarkan data bahwa penurunan wistawan berdampak pada devisa yang turun hingga 97 persen.

“BI juga mengatakan devisa pariwisata turun hingga 97 persen yoy (year on year) dari 1.119 juta dolar AS hanya ke 31 juta dolar AS. Penurunan yang luar biasa sakali,” ucapnya, dalam diskusi virtual bertajuk ‘Reaktivasi Sektor Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Memasuki Adaptasi Kenormalan Baru’.

Tak hanya itu, Luhut mengatakan, akibat dari menurunnya jumlah kunjungan wiastawan mancanegara maupun domestik ini berdampak juga terhadap ratusan ribu pekerja di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif yang kehilangan pekerjaan.

“Lebih dari 180 ribu tenaga kerja di sektor pariwisata dan ekonomi kreatif merasakan dampaknya. Lebih 2.000 hotel mengalami penghentian operasional,” katanya.

Luhut menjelaskan, dampak tersebut kemudian meluas ke segala sektor yang bersinggungan langsung dengan pariwisata. Seperti menurunnya permintaan bahan baku hingga permintaan pasokan minyak.

Demi mencegah situasi tersebut terus berlanjut di kuartal III ini, pemerintah saat ini mengambil langkah mulai menguatkan kembali sektor pariwisata. Kata Luhut, pemerintah akan memaksimalkan kapasitas wisatawan domestik hingga 70 persen.

“Mari kita sama-sama di kuartal ketiga ini coba melakukan turis domestik. Kita coba naikan secara bertahap angka itu hingga ke 70 persen. Indonesia memiliki potensi wisatawan domestik yang sangat besar dengan 300 juta perjalanan setiap tahun,” jelasnya.

Kemudian juga menurut peneliti bidang ekonomi The Indonesian Institute, Muhamad Rifki Fadilah, penurunan di sektor pariwisata ini sangat berdampak besar ke sektor-sektor lain yang bergerak di bidang pariwisata seperti sektor perhotelan, penerbangan serta sektor makanan dan minuman milik UMKM yang merupakan penyokong bagi sektor pariwisata.

Pada kuartal II tahun 2020, pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami penyusutan yang cukup dalam hingga mencapai 5,32%. Indonesia dipastikan masuk ke jurang resesi jika kuartal III pertumbuhan ekonomi kembali mengalami penyusutan. Sejumlah sektor industri pun alami kerugian akibat pandemi virus COVID-19 ini, tidak terkecuali industri pariwisata. Pemerintah Indonesia berupaya untuk memulihkan pariwisata Indonesia.

Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif bekerja sama dengan pelaku usaha di bidang pariwisata untuk kembali meraih kepercayaan wisatawan dan meningkatkan pariwisata Indonesia. Kemenparekraf menyusun protokol berbentuk video edukasi dan handbook bernama Cleanliness, Health and Safety (CHS).

Selain pemerintah, perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata juga harus melakukan upaya untuk membantu meningkatkan devisa negara di sektor pariwisata dan tentunya untuk mempertahankan kinerja bisnis di tengah kondisi perekonomian yang masih belum stabil ini. Pelaku usaha bisa memanfaatkan tiga strategi yaitu optimizing digital platform, wait and see strategy, dan bundling products.

Seperti yang kita ketahui bahwa pariwisata merupakan salah satu sektor terpenting dalam menopang perekonomian Indonesia, maka diperlukan partisipasi dari berbagai pihak untuk dapat meningkatkan kembali devisa sektor pariwisata Indonesia yang anjlok akibat pandemi COVID-19 ini.

Pemerintah harus bisa meningkatkan kembali kepercayaan wisatawan baik domestik maupun mancanegara karena Indonesia mengalami lack of trust, sehingga semua pihak yang berada di bidang pariwisata harus berupaya bersama meningkatkan kepercayaan terhadap wisatawan.

Selain itu, perusahaan yang bergerak di bidang pariwisata harus bisa melakukan strategi bisnis, salah satunya adalah dengan memanfaatkan platform digital. Masyarakat juga berperan penting dalam proses ini sehingga pariwisata Indonesia bisa kembali normal dan devisa sektor pariwisata bisa kembali melambung serta mengembalikan keproduktivitasan dan efisiensi di sektor pariwisata. Namun, untuk meningkatkan kembali pariwisata Indonesia harus tetap mengimplementasikan protokol kesehatan dan memperhatikan kenaikan kasus COVID-19.